Vampire Eyes - Bagian 3
Dengan sangat perlahan aku membuka
mataku, menyipit kearah lampu diatasku.
Aku bangun dengan cepat dan menatap sekeliling. Tempat tidur dengan
seprai warna putih, dinding dengan kertas wallpaper bewarna coklat, rak penuh
buku dan sofa didekat jendela. Hei bukankah ini kamarku? Apa tadi aku hanya
bermimpi? Tidak, rasa sakit dikepalaku masih ada.
“Masih lambat seperti biasanya.
Alice?”
Orang itu.
Sejak kapan dia kembali? Aku akan benar-benar kewalahan jika dia ada disini.
Yang benar saja! Belum apa-apa dia sudah menghantam kepalaku. Aku menatap tajam
dirinya yang sedang santai meminum wine di sofa sambil menyilangkan kaki, arogan
sekali!.
“Kenapa menatapku seperti itu? Tidak
mau menyambutku?” dia tersenyum
mengejek.
“Selamat datang, kak” kataku dengan nada jengkel yang jelas.
Ya, dia adalah kakakku -Almir J
Bloodnovon. Sikapnya sering kali mengesalkan dan sangat aneh. Memukulku adalah
sebuah hal normal baginya, dia bilang untuk membuatku semakin kuat dan ya itu
cukup terbukti. Selama ini aku selalu berhasil menghindarinya namun malam ini
aku lengah karena sudah lama sekali tidak melakukannya, terakhir adalah lima
bulan yang lalu.
“Wah, wah, Alice dimana sopan
santunmu?” dia berjalan angkuh mendekatiku, masih memegang gelas wine-nya. Aku hanya diam menyaksikannya
berdiri didepanku. Dia mengenakan kemeja putih dan celana bahan cokelat, rambut
cokelatnya berantakan, disekitar dagunya sudah ditumbuhi jenggot tipis dan mata
birunya memerah. Kesimpulannya adalah penampilannya sangat berantakan.
“Perlu aku ajari lagi apa itu sopan
santun? Dan apa kau sedang mencoba untuk menilai penampilanku?”
Sial. Aku lupa
soal kemampuan pengamatannya. “Aku sudah bosan dengan pelajaran sopan santun-mu itu”. Yang dimaksud
pelajaran sopan santun disini adalah membuatkun bangun jam 3 pagi, memaksaku
memakan jeroan domba dan aku harus tetap tersenyum bagaimana pun rasanya,
dipaksa berlarian sepanjang hutan
menggunakan sepatu wanita, mengucapkan kata kasar padaku namun aku harus tetap
tersenyum dan sebagainya. Itu semua dia lakukan saat aku berumur 10 tahun dan
sampai lima bulan kemarin.
Mungkin ajarannya berhasil dalam beberapa aspek kehidupanku. Sebagai wanita bangsawan aku memang harus bisa menahan amarahku dan bersikap baik didepan semua orang atau bersikap lemah lembut.
“Oh benarkah?” sungguh,
nada mengejeknya benar-benar mejengkelkan “ah sudahlah, lagipula aku tidak
punya waktu lagi. Aku akan memanfaatkan senggang waktu ini untuk beristirahat”
lanjutnya.
Aku mengamatinya kembali ke sofa
tadi. “Bagaimana kau bisa ada di keretaku?” tanyaku sambil menyusulnya untuk
duduk di sofa.
Dia meminum wine lalu memejamkan mata.
“Hahh… wine jenis Carbenet
Sauvignon memang pas sekali sekarang. Eh? Maaf kau bilang apa tadi?”
Bersabar memang keahlianku tetapi
menghadapi orang ini rasanya aku menyerah saja.
“Bagaimana
kau bisa berada dikeretaku wahai kakakku?” aku menekankan setiap kata yang
aku ucapkan.
“Yah, sederhana saja. Aku melompat
setelah melihat keretamu di jalan Westchea kemudian aku meminta Charlie untuk
menggeser tubuhnya. Lalu saat kau mulai
berbicara tidak jelas, aku melompat lewat pintu samping kereta. Selesai”
Apa dia tidak punya cara yang lebih bagus untuk menumpang? “Lalu cahaya merah itu apa?”
“Aduh, kau ini banyak bertanya ya…
gunakanlah sedikit otakmu. Katanya kau ini Lady
of Wise”
Sialan kau! Setelah
aku menatap tajam dirinya dia menghela nafas lalu melanjutkan. “Itu hanya
gelang batu permata merah yang aku gunakan untuk mengecohmu. Lihat”
Dia menurunkan lengan kemejanya lalu
menunjukan gelang permata merah yang cukup bagus. Tapi untuk apa dia
menggunakan sebuah gelang?
“Hanya iseng saja aku memakainya, yah
pada akhirnya gelang ini berguna juga untuk mengecoh. Temanku dari Irlandia
yang memberikannya” jawabnya. Tunggu, apa
aku menyuarakan isi pikiranku?
“Tidak, aku hanya menebak apa yang
kau pikirkan tapi ternyata benar”
Kemampuannya sangat meningkat, harus
kuakui bahwa dia sangat pintar. Aku
bangkit dari sofa. “Kau sudah makan malam, kak?”
“Tentu saja. Ini, kan, sudah jam 10
malam” katanya dengan santai sambil meminum kembali wine .
“Lalu kenapa kau tidak membnagunkanku
untuk makan malam?!” tanyaku sambil berbalik kearahnya lalu kembali duduk
dihadapannya.
“Kau tidur sangat nyenyak, aku tidak
berdaya membangunkanmu adik kecil” matanya bersinar jahil. Aku mengabaikannya.
“Kenapa kau kembali?” tanyaku
kemudian mengambil gelas dan menuangkan wine.
Aku menatapnya saambil meminum wine.
“Astaga! Apa kau mencoba mengusirku?”
mulai lagi dia mendramatisir. “Sudahlah kak, jawab saja”
“Iya, iya. Ck! Kau ini tidak sabaran
ya. Kau sudah dengar tentang kasus pembunuhan yang terjadi kemarin, kan?” aku
mengangguk lalu dia melanjutkan “kasus ini sama persis seperti yang terjadi di
Wales. Lalu aku terus mengikuti jejak si pelaku misterius ini, dia sangat
cerdik dalam menyembunyikan diri. Ya, tapi tentu saja tak begitu cerdik karena
dia bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya secara simetris dari Wales,
Brimingham dan Peterborough selanjutnya London dan aku yakin tempat selanjutnya
tidak akan jauh dari sini” jelas kakakku.
“Kau yakin dia hanya seorang?”
tanyaku ragu padanya.
“Aku hampir yakin itu satu orang tapi
keyakinanku runtuh begitu menemukan mayat yang berbeda”
“Apa yang berbeda?” tanyaku tidak
sabar.
Kakakku diam sebentar, matanya
menjadi kosong untuk sesaat kemudian menjadi tidak fokus. Dia membuka mulutnya
sebentar lalu menutupnya lagi seakan ragu dengan apa yang akan diucapkan.
“Dengar Alice…” dia dengan tiba-tiba
beranjak kearahku lalu mencekram kedua sisi bahuku dan menatap mataku dengan
tajam. “Apapun yang terjadi aku mau kau tidak mendekati makhluk itu”
Apa yang dibicarakannya? Aku mengerutkan dahi tidak mengerti, dia menghela nafas.
“Tiga bulan setelah aku pergi, aku mendapatkan kesimpulan tentang kematian ibu
dan ayah juga kasus kematian selama ini”
“Dan apakah itu?” dia terlihat ragu
kembali untuk menjawabnya “katakan padaku, kak!”
“Baiklah” dia duduk disampingku masih
menatap kedalam mataku “kau pasti akan menganggap aku lebih gila lagi, ya
walaupun kau memang sudah menanggap aku
gila tapi tetap saja…”
“Demi Tuhan katakan saja padaku!”
kemarahanku sudah mencapai puncak. Kenapa sih dia tidak mengatakannya saja.? Toh,
aku tidak akan memberitahu semua orang dijalanan dalam radius seratus meter.
“Kenapa kau berteriak sih? Kan, sudah
aku bilang wanita tidak boleh berbicara keras-keras” kakakku menyipitkan matanya. Aku jadi ingin
tahu, apakah memukul seorang kakak itu berdosa?
“Itu karena kau yang berbicara
berbelit-belit, kak. Jadi jelaskan padaku, sekarang. Aku siap mendengarnya,
apapun itu”
Kakakku mengangkat sebelah alisnya
sebelum kembali berbicara. “Baiklah, aku menduga itu adalah perbuataan ‘makhluk berdarah dingin’. Kau pasti
menganggap aku gila, iya kan?”
Makhluk berdarah dingin? Makhluk – berdarah – dingin… aku bersumpah aku seperti pernah
mendengar kata-kata itu.
Tapi dimana?
Ah
Buku itu!
“Alice!” panggilan kakak membuyarkan
lamunanku. “Kau melamun saat aku sedang berbicara padamu?. Alice, aku
peringatkan. Itu sama sekali tidak sopan” dia berbicara dengan nada yang tajam.
Terkutuklah kakakku dan kegilaannya akan
sopan santun! “kau sepertinya tahu maksud dari kata-kataku” lanjutnya.
“Sebenarnya aku punya buku dengan
kata-kata yang mirip…” aku menggigit bibirku saat kakakku membuat ekspresi
lebih tajam lagi.
“Dimana buku itu? Tunjukan padaku”
katanya sedikit memaksa. Tidak, aku tidak mau memberikannya dengan mudah. Dia
saja belum memberitahuku apa yang terjadi.
“Katakan terlebih dahulu apa yang
terjadi sebenarnya”
Kakakku memejamkan matanya. “Well, aku rasa juga tidak ada gunanya menyembunyakan
hal itu darimu. Oke, seseorang membunuh mereka dan seseorang itu bukan manusia. Dia salah
sasaran dan dia sempat berbicara pada ibu dan ayah, dan mungkin karena
jawabannya tidak memuaskan dia membunuh
mereka”
“Aku tidak mengerti, kak”
“Aku juga tidak mempunyai banyak
bukti Alice dan itu hanya dugaanku, sudah malam. Kau tidurlah dan tentang buku
itu mungkin besok saja kita bahas, aku lelah”. Setelah mengatakan itu dia
keluar dari kamarku.
Aku masih termenung meresapi
perkataan kakak namun tidak ada satupun yang aku mengerti. Mungkinkah
jawabannya ada didalam buku itu? Apakah Tuan Arthur ada hubungannya dengan ini
semua? Apakah dia salah satu dari makhluk itu? Dia orang jahat?
Kemudian aku memutuskan untuk mencari
buku itu, mengabaikan perintah kakakku. Aku harus
membaca sampai tamat buku itu malam ini.
***
Niatku untuk pergi menemui Charlie
tapi saat aku melewati dapur aku melihat Penelope sedang menuliskan sesuatu di
meja yang ada didapur, jadi aku memutuskan untuk bertanya padanya.
“Penelope,apa kau melihat Charlie?”
Penelope kelihatan terkejut dengan
kedatanganku, dia langsung menyembunyikan kertasnya dibalik tubuhnya yang
lumayan gemuk.Penelope adalah kepala pelayan dirumahku, sudah 8 tahun dia
bekerja disini dan aku mempercayainya. Dia bertubuh lumayan gemuk, rambut
pirang serta bintik-bintik diwajahnya, dia sudah mempunyai anak perempuan dan
terkadang jika anaknya sedang berlibur mereka ikut membantu disini. Suaminya sudah
meninggal, suaminya adalah pengemudi kereta yang membawa orang tuaku.
“Eh Nona, em… Charlie sudah berada di
kamarnya, akan saya panggilkan”
Aku mengangkat sebelah alisku, dia
semakin gugup. “Apa yang kau tulis Penelope? Bolehkah aku melihatnya?” bukannya
aku tidak mempercayainya, walaupun dia melakukan sesuatu dibelakangku maka aku
hanya akan membiarkanya pergi. Aku sudah sangat menyayanginya dan menganggap
dia bibiku.
“Eh.. itu, ini…” aku semakin
menyipitkan mata dan pada akhirnya dia memberikan secarik kertas itu padaku. Aku
membukanya sambil sesekali melihat kearahnya yang sedang gelagapan.
Untuk Tuan Heinrich Louis
Saya sangat terhormat menerima undangan minum teh anda, jika diizinkan
oleh Lady saya akan datang pada pukul dua sore. Terima kasih.
Penelope Feron.
Mataku berbinar melihatnya. “Oh ya
ampun Penelope, selamat untukmu” aku memeluk Penelope dengan erat, yah…
kelihatannya ia akan melepas status sebagai janda.
“Terima kasih Nona” ujarnya saat
pelukan kami terlepas. “Siapa Heinrich Louis ini?” aku sama sekali belum pernah
mendengar nama ini sebelumnya.
“Dia adalah salah satu koki disebuah
restoran Nona” jawabnya dengan pipi bersemu. Oh pasti Tuan Louis ini pasti
memerlakukannya dengan sangat baik hingga bisa membuat Penelope yang berusia 40
tahun bersemu seperti gadis remaja.
“Apakah Nona masih ingin menemui
Charlie?” dia bertanya dengan ragu.
“Ya,
tentu saja. Katakan padanya aku menunggu diruang makan” setelah itu aku dan
Penelope keluar dari dapun tetapi kami kemudian mengambil jalan yang berbeda.
***
Visualisasi karakter
Peter
G Rupert Arthur (Manu Rios)
Alice Haisley Bloodnovon (Alexandra Daddario)
Almir J Bloodnovon (Mariano Di Vaio)




Keren de tapi ko warna nya lu ganti lagi??
BalasHapuseh bikin cerita nya chanyeol dong