Vampire Eyes - Bagian 2




Bagian 2

Kami pergi ke restoran Ledbury, disana menyediakan makan ala Perancis, Inggris dan Jerman. Tuan Arthur menarik kursi kemudian mempersilahkan aku duduk. Pria yang sopan. Pelayan datang dan menanyakan pesanan kami. Aku memesan Boeuf bourguignon, makanan Perancis berupa sup yang terbuat dari daging sapi yang direbus dalam anggur merah dan kaldu sapi. Makanan ini dimasak dengan bumbu bawang putih, bawang, rempah segar dan jamur. Sementara Tuan Arthur memesan Roast meat dan kami juga memesan Yorkshire pudding dengan topping irisan daging.

Pelayan pergi setelah mencatat pesanan kami. “Jadi Tuan Arthur, anda adalah seorang penulis?”

Dia menaikan satu alisnya dan tersenyum. “Ternyata saya belum seterkenal seperti yang saya kira, cukup menyedihkan mendengar pertanyaan anda, Lady”

Oh tidak, aku telah membuatnya tersinggung. Aku menjadi panik seketika. Oh Tuhan! Aku belum memulai apapun dan sekarang aku sudah membuatnya tersinggung.

“Maafkan saya Tuan Arthur. Saya tidak bermaksud, sungguh dan ini adalah kesalahan saya yang tidak banyak membaca buku lain”

Tuan Arthur tertawa kecil mendengar perkataanku. Suaranya sangat indah padahal dia hanya tertawa kecil tapi itu mampu membuatku terlena dan jangan lupakan mata hazel yang memesona itu.

“Saya hanya bercanda Nona Bloodnovon dan ya saya menulis beberapa judul buku”
“Kalau saya boleh tahu apa sajakah itu? Mungkin saya pernah membacanya”

“Hmm… Ain’t a grave, The Abominable Murder, A Ridiculous Human, Absolute Silence dan masih banyak lainnya. Pernah membaca salah satunya?”

“Sejujurnya belum Tuan Arthur. Maafkan saya tapi saya akan membacanya setelah ini dan apakah saya boleh tahu judul dari buku ini?”

Pelayan datang membawakan makanan pesanan kami. “Saya tidak terpikirkan untuk memberi judul serta menulis akhir cerita pada buku itu”

“Kenapa?”. Pertanyaan itu terlontar begitu saja tanpa aku pikirkan.

“Karena akhir dari buku itu akan benar-benar membuat anda terkejut dan orang yang memberi saya inspirasi untuk buku itu divonis akan meninggal dalam waktu dekat jadi saya tidak bisa lagi menulis”

Entah aku yang salah dengar atau dia memang benar-benar menekankan beberapa kata tapi itu segera hilang dari pikiranku melihat ekspresi sedihnya. “Saya benar-benar minta maaf  Tuan Arthur.”

“Tidak  masalah Nona Bloodnovon dan mari kita makan sebelum makanan ini berubah menjadi sesuatu yang lain”

Kami makan dalam diam, tentu saja. Memangnya boleh makan sambil bicara? Itu sangat tidak sopan. Kulihat dia makan sedikit-sedikit seperti tidak berselera dalam melahap makanannya, sangat berbeda denganku yang memang memiliki selera makan yang hebat. Cara makan Tuan Arthur juga sangat teratur, pertama dia akan memakan sepotong kecil daging lalu dia akan meminum wine dan dia mengulangi itu sepanjang makan.

“Jadi buku seperti apa yang sering anda baca Nona Bloodnovon?” dia bertanya setelah makanan kami habis. Sungguh melegakan mengetahui fakta ia tak langsung kabur setelah melihatku makan satu mangkuk penuh Boeuf bourguignon dan juga lima buah pudding Yorkshire.

“Thomas Macaulay, John Ruskin, Samuel Butler, Jane Austen, Bronte’s dan yang lainnya”
Saat mendengar jawabanku pria dihadapanku ini tersenyum lebar. “Pantas saja anda belum pernah membaca buku saya”

“Memangnya kenapa?” tanyaku bingung.

“Selera anda sangatlah berbeda dari buku yang saya tulis”

“Dan apakah itu?”

Secara tiba-tiba dia memajukan tubuhnya hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajahku yang sudah semerah bunga plum. “Selera saya lebih sadis dan kejam

Masuk akal jika mengingat judul-judul novelnya. Aku hendak menanyakan hal lain tapi tiba-tiba saja Charlie datang dan mengatakan bahwa sudah waktunya berangkat ke acara minum teh Keluarga Cynster. Persetan dengan pesta itu! Aku hanya ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan pria misterius dihadapanku ini, tapi akal sehatku mengalahkan kata hatiku sehingga dengan berat hati aku harus pergi.

“Maafkan saya Tuan Arthur, sangat disayangkan saya mempunyai janji lain yang sedang menunggu kehadiran saya”

Pria itu menghampiriku kemudian membungkuk untuk mencium punggung tanganku. Ia mengatakan akan mengantarkanku sampai kereta dan setelah sampai dikereta dia melepaskan genggaman tangannya. “Sampai jumpa, Tuan Arthur senang berkenalan dengan anda, oh! Dan ini buku anda”

“Simpan dan bacalah jika anda berkenan dan ya, sampai jumpa Nona Bloodnovon. Mungkin lain kali kita harus minum teh dan membahas hal bagus lainnya”

Setelah berterima kasih padanya, keretaku berjalan. Aku masih memerhatikannya dan aku lihat kilat aneh yang ada dimatanya juga senyumannya yang terkesan dingin. Apa yang sedang dipikirkannya? Aku terus melihatnya sampai sosoknya tiba-tiba saja hilang. Aneh.

***

Aku datang tepat waktu di rumah keluarga Cynster, halaman rumahnya cukup indah dengan bunga mawar, anggrek dan beberapa jenis tanaman lainnya. Disana sudah tersedia beberapa meja bundar untuk para tamu yang hadir, diatas meja sudah terdapat pot tea keramik yang elegan beserta cangkir-cangkirnya dan kue-kue kecil seperti muffin,cake yang sudah dipotong, scone dan jenis kue kecil lainnya.

Acara minum teh seperti ini di Inggris dimulai sejak tahun 1800-an dan teh pertama kali masuk ke Inggris pada tahun 1662. Acara minum teh atau yang biasa disebut Afternoon tea pertama kali dibuat oleh Anna Maria Russell, Duchess of Bedford ke-7. Disebabkan karena rentang waktu yang panjang antara makan siang dan makan malam Sang Putri sering merasa kelaparan kemudian dia meminta para pelayan untuk membuat teh dan kudapan dan sampai saat ini menjadi tradisi baru di Inggris. Mungkin cukup untuk sejarahnya karena sekarang aku melihat Nyonya Cynster datang menghampiriku.

“Selamat sore, Lady. Sungguh sebuah kehormatan bagi kami anda mau datang ke acara minum teh sederhana kami” Nyonya Cynster atau lebih lengkap lagi Mrs. Charlotte Cynster berperawakan kurus tinggi, hidung mancungnya sedikit bengkok, rambutnya ia gelung dengan tinggi dan memakai gaun yang menutupi hingga ke lehernya.

“Selamat sore juga Mrs. Cynster” kataku dengan tersenyum.

“Sungguh suatu kehormatan anda mau datang ke acara kami” dia tersenyum dengan cara yang di buat-buat.  Kemudian dia memintaku untuk duduk disalah satu kursi disana. Dihadapanku sudah tersedia dua pot teh dengan isi yang berbeda, ada teh Earl grey dan Darjeelings white tea.

“Oh, selamat sore Lady” seorang perempuan disamping kananku menyapaku dengan riang begitu aku menempelkan bokong di kursiku.

“Selamat sore juga Mrs. Meridon” wanita itu adalah istri dari kepala polisi di Scotland Yard –tetanggaku-.

Kemudian acara saling menyapa dimulai. Mereka mengobrol tentang hal-hal yang sangat tidak penting contohnya seperti “kemarin ada seorang pekerja yang menumpahkan saus di gaunku”  atau “hari ini aku memecat tiga orang pelayan. Demi Tuhan! Mereka sangat tidak becus membersihkan sepatu” dan yang lainnya, hanya Tuhan yang tahu bagaimana nasib orang-orang yang mereka bicarakan tadi, mencari perkerjaan bukanlah suatu hal yang mudah.
Acara ini diawali dengan membentangkan serbet diatas paha, kemudian menuangkah teh ke cangkir-cangkir yang telah tersedia. Jika ingin teh manis kita bisa menambahkan gula kubus kedalam teh lalu mengaduknya dan jangan mengaduknya dengan gerakan melingkar ataupun sampai menimbulkan bunyi setelah selesai mengaduk letakan kembali sendok di atas piring cangkir. Tegakan tubuh lalu pegang kuping cangkir dengan posisi ibu jari dan telunjuk bertemu tanpa mengaitkannya hindari mengangkat jari kelingking. Oh ya ampun! Aku bahkan hafal kata-kata yang diajarkan oleh guruku pada umur 14 tahun. Gadis remaja di Inggris biasanya mendapat pelajaran tata krama setiap harinya.

Semuanya berceloteh dengan riang sementara aku sibuk memakan kudapan manis, sesekali aku akan membalas apabila ada yang bertanya tentang pendapatku. Mempunyai julukan Lady of Wise tidak mudah, setiap kali orang bertanya kau harus menjelaskan jawaban sampai orang itu mengerti. Terkadang kau harus sabar dengan pertanyaan yang tidak logis lalu kau juga harus memberi arahan yang benar.

Aku mendapatkan julukan itu saat aku baru saja lulus dari Oxford University mengambil jurusan sejarah dan ekonomi sebagai lulusan terbaik setelahnya ikut membantu penelitian di British Museum, selain itu dimasa kecil aku sering berpergian ke berbagai perpustakaan untuk membaca berbagai macam buku.

Omong-omong soal buku aku jadi tidak sabar bertemu dengan Tuan Arthur, aku lupa menanyakan dimana aku dapat menemuinya.  Baru kali ini aku begitu merasa tertarik terhadap lelaki, mungkin semua wanita yang bertemu dengan Tuan Arthur juga akan merasakan hal yang sama. Rambut hitam tebal yang disisir dengan rapih, tubuh tinggi –mungkin sekitar 190 cm-, tulang pipi tinggi bagai dipahat, bibir penuh, dan mata hazel yang tajam.

“… Lady, Lady” Mrs. Meridon membuyarkan lamunanku tentang pria yang baru saja aku temui.

“Ada apa Nyonya Meridon? Maafkan saya, tadi saya sedang berpikir” kataku sambil tersenyum.

“Bukan hal yang penting, Lady. Kami hanya bertanya apa pendapat anda tentang kasus pembunuhan yang terjadi akhir-akhir ini?”

Kasus pembunuhan? Aku sama sekali belum membaca berita akhir-akhir ini dikarena sibuknya mengurus dana keuangan untuk kusumbangkan ke panti asuhan. “Kasus pembunuhan macam apa kalau saya boleh tahu?”

“Suami saya mengatakan bahwa kemarin ditemukan mayat di gedung tua yang ada di jalan Strand. Keadaan mayatnya sangat misterius, kehilangan banyak darah namun tidak ada luka di semua bagian tubuhnya”

“Saya baca di surat kabar  kalau keadaan mayatnya sama persis seperti yang ada di kota Peterborough, kejadian kemarin adalah yang kelima kalinya dalam minggu ini” timpal wanita di seberang meja.

“Entah siapa yang melakukan itu, yang pasti dia adalah pembunuh yang sadis dan kejam” kata seorang wanita di samping wanita tadi. Aku terdiam untuk beberapa saat karena kata terakhir dari wanita tersebut. Tidak mungkin, kan?

“Aduh Nyonya-Nyonya ini kenapa malah membicarakan tentang mayat dan pembunuhan, lihatlah wajah Lady yang tidak nyaman. Lebih baik kita membicarakan masalah masa depan anak-anak kita” Mrs. Cynster menghentikan percakapan tersebut.

“Saya tidak apa-apa, Nyonya Cynster” dan Mrs saya belum punya anak, sanggahku.

Dan topik percakapan, pun, berubah dengan cepat dan aku masih dikejutkan dengan fakta tadi. Fakta bahwa ada pembunuh yang berkeliaran, aku sedikit trauma mendengar kata pembunuh setelah orang tuaku tiada.  Pembunuhan, itulah yang kakakku percaya atas meninggalnya orang tuaku.

***

Sudah jam makan malam dan aku masih dalam perjalanan menuju rumahku. Lampu jalanan sama sekali tidak membantu dalam menerangi jalan.  Aku meminta Charlie untuk menggerakan kereta lebih cepat, terdengar suara lecutan dan kereta berjalan dengan kecepatan yang lebih tinggi.

Buku yang tergeletak disampingku jatuh begitu saja, aku membungkuk untuk mengambil. Kereta berhenti secara tiba-tiba membuatku hampir saja terjungkal. Aku membuka jendela didepan. “Charlie apa yang terjadi?”

Tidak, tidak dia bukan Charlie.

“Diamlah Luv!”


Suara itu. Tidak mungkin. Aku baru membuka mulutku dan dia sudah didepanku. Kemudian aku melihat sinar merah dan sesuatu yang keras menghantamku dengan cepat. Aku pingsan.

***

***

For Your Information

Pada era Ratu Victoria. Seorang pria dilarang memanggil wanita dengan nama depannya kecuali mereka bertunangan atau menikah. (Academia, uploaded Ahmad Roziqin)

Thomas Babington Macaulay, 1st Baron Macaulay , (25 Oktober 1800 - 28 Desember 1859) adalah seorang sejarawan Inggris dan politisi . Dia menulis secara ekstensif sebagai esais, pada subjek sosial politik kontemporer dan historis, dan sebagai resensi.(Wikipedia)

Jane Austen (lahir – meninggal pada umur 41 tahun) adalah seorang , yang gaya realismenya, uraiannya yang tajam tentang kondisi sosial, dan kepiawaiannya meramu gaya narasi bersudut pandang orang ketiga, , dan , telah menjadikannya salah satu dalam yang paling disukai dan karyanya dibaca di mana-mana.  (Wikipedia)

John Ruskin (8 Februari 1819 - 20 Januari 1900) adalah kritikus seni terkemuka dari Inggris pada era , juga merupakan di bidang kesenian, watercolourist, seorang pemikir sosial terkemuka dan dermawan. Dia menulis berbagai macam subjek ilmu pengetahuan mulai dari , , , sastra, dan botani.  (Wikipedia)

Keluarga Brontë () adalah keluarga ternama dari abad kesembilan belas yang menetap di sebuah desa bernama di , . Ketiga anak perempuannya; (lahir 21 April 1816), (lahir 30 Juli 1818), dan (lahir 17 Januari 1820), dikenal sebagai penyair dan novelis (Wikipedia)

x

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Vampire Eyes - Bagian 1

Vampire Eyes - Prolog

Noctuary - Dreams