Vampire Eyes - Bagian 1



Bagian 1

Sepertinya ini adalah hari sialku. Bagaimana mungkin aku tidak berpikir begitu? Sore ini seharusnya aku sudah dengan tenang membaca buku incaranku ditaman rumahku tapi yang kudapatkan hanyalah permintaan maaf dari pemilik toko buku dan pernyataan bahwa buku yang aku pesan batal dibawa ke kota ini. Sangat kekanakan jika aku terus menggerutu diumurku yang ke-22 tahun jadi sore ini aku hanya berjalan-jalan disekitar taman kota, menikmati pemandangan bunga yang indah sambil membawa keranjang piknik yang berisi macam-macam buah untukku makan bersama beberapa gadis lainnya.

Saat hari mulai gelap kami memutuskan untuk menyudahi acara piknik sederhana kami dan pulang kerumah masing-masing. Pengemudiku terpogoh-pogoh menghampiriku dari kereta kuda kemudian aku menyerahkan keranjang piknikku padanya. Aku sudah berada diambang pintu kereta saat seseorang berteriak dibelakangku.

"Permisi Nona!" teriak seorang lelaki tua mengenakan pakaian kumal dan compang camping membuatku mengernyit dahi saat bau tubuhnya sampai ke hidungku. Berusaha ramah aku tersenyum dan bertanya apa yang dia butuhkan.

"Nona meninggalkan sebuah buku tadi!" Lalu dia menyodorkan buku tebal dengan sampul kulit tebal dan elegan. Memiliki ukiran emas ditiap sisinya. Buku yang bagus, pikirku.

"Oh? Tetapi saya sama sekali tidak membawa buku apapun"

"Tapi tadi saya melihat ini ditempat yang Nona duduki"

"Aku bersungguh-sungguh bahwa buku itu bukan milikku!" aku menjawab dengan sedikit kesal karena lelaki tua yang keras kepala ini menghambat jam makan malamku.

"Saya mohon, Lady. Hanya bawa saja buku ini bersama anda"

Aku sangat terkejut saat melihat lelaki tua dihadapanku menangis, membuatku merasa bersalah karena membentak dia tadi. Namun aku rasa itu bukan karena aku yang membentaknya, ada sesuatu yang lain yang membuatnya memaksakan kehendaknya. Kemudian aku meminta Charlie –pengemudiku- untuk membawakan keranjang piknik kepadaku. Aku menempatkan beberapa koin didalamnya.

"Baiklah. Saya akan membawa buku itu bersama saya tapi dengan syarat kamu harus membawa keranjang ini dan silahkan makan apa yang ada didalamnya, anggap saja saya membayarmu untuk buku ini"

Wajah lelaki tua itu langsung sumringah begitu aku menyodorkan keranjangku padanya. Aku berpikir mungkin lelaki tua ini belum makan apapun dan tidak mempunyai uang untuk membelinya. Hidup di Inggris sangatlah keras jika kamu bukan dari kalangan bangsawan ataupun orang kaya. Orang-orang akan memandang rendah orang yang tidak mempunyai gelar atau uang, sungguh keterlaluan.

"Terima kasih, Lady. Semoga anda diberkati"

Lelaki tua itu memberikan buku itu padaku sambil terus mengucapkan terima kasih. Aku masuk kedalam keretaku kemudian Charlie menjalankan kereta kudanya. Aku melihat keluar jendela kereta dan lelaki tua itu masih disana dengan memeluk keranjang yang aku berikan padanya, aku terus memerhatikannya sampai sosoknya menghilang dari pandanganku. Aku mengalihkan atensiku pada gedung-gedung bercat putih disepanjang jalan.

Kota ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah tempat yang memiliki gedung-gedung yang indah -tempat para bangsawan tinggal- tapi tidak hanya rumah para bangsawan disini juga ada beberapa toko, bar, dan salon. Bagian kedua berada dibagian selatan kota. Bagian selatan ini merupakan tempat kumuh, beberapa gelandang bisa kau temukan tergeletak dipinggir jalan. Tempat itu hanya terdapat gedung-gedung tua,rumah kecil dan juga rumah bordil. Mungkin terdengar sangat tidak adil tapi inilah kenyataan dunia.

***

Kereta berhenti didepan gerbang kastilku, penjaga disana dengan tergesa-gesa membuka gerbang. Kemudian kereta berjalan kembali dan berhenti tepat didepan pintu masuk. Aku segera keluar dari kereta, beberapa pelayan menyambutku dan menanyakan menu untuk makan malam. Setelah menjawab aku pergi menaiki tangga menuju kamarku.

Di kastil ini hanya ada aku dan para pelayan. Kedua orang tuaku sudah meninggal, mereka meninggal setahun yang lalu disebabkan kecelakaan saat perjalanan pulang dari Skotlandia. Mereka ditemukan dijalanan sepi dan berbatu, kereta mereka terbalik dan hancur. Pengemudi dan kudanya juga meninggal dalam keadaan yang sama yaitu kekurangan darah. Dokter mengatakan bahwa kepala mendiang ayah terbentur dan menyebabkan darah terus mengalir, kalau mendiang ibu sudah dipastikan karena besi yang tertancap dijantungnya.

Kakakku –Almir J Bloodnovon yang mana dia seorang detektif yang terkenal di Inggris ini mengatakan bahwa ada yang aneh dengan kematian mereka, jadi dia masih terus menyelidiki kasus itu membuatnya jarang sekali pulang. Bukan hanya kasus orang tuaku saja yang ditangani olehnya namun kasus-kasus aneh lainnya, semakin aneh kasusnya maka ia akan semakin bersemangat. Sangat aneh. Dan meskipun sudah berumur 27 tahun dia belum menikah. Kasihan.

Setelah mandi dan mengganti pakaianku, aku pergi kebawah untuk makan malam. Di meja makan telah tersedia bistik daging domba, kentang tumbuk dan sup. Aku memilih makanan yang cukup berat untuk makan malam, biasanya para gadis hanya akan menyantap kentang tumbuk karena khawatir akan bentuk tubuh mereka tapi aku tak perlu khawatir akan itu sebab sebanyak apapu aku makan itu tidak akan memepengaruhiku. Sungguh sebuah anugerah yang sangat indah.

Makan malamku telah selesai dan aku menolak hidangan penutup, aku tidak memerlukan kesopanan karena aku hanya makan sendirian. Menyedihkan sekali. Menggunakan piamaku lalu bersiap untuk tidur namun gerakanku berhenti saat melihat buku yang diberikan lelaki tua tadi jadi aku memutuskan untuk mengambil buku itu dan membawanya ke sofa yang terletak di samping jendela kamarku.

Buku ini cukup berat dan tebal mungkin sekitar 400 halaman ditambah lagi sampul kulit dari buku ini yang membuatnya semakin berat. Sampulnya memiliki bahan kulit asli berwarna cokelat muda disetiap sudutnya terdapat ukiran emas yang melengkung sampai ketengah berkumpul menjadi satu membuat sebuah bulatan kecil.

Setelah aku membukanya hanya terdapat sebuah kalimat "Takdirmu sudah ditentukan" dan dibawahnya dapat huruf "G" , cukup misterius membuatku penasaran akan isi dari buku ini. Aku membuka halaman kedua,

"Semua bermula dari sekelompok manusia yang haus akan ilmu pengetahuan namun itu membawa mereka pada petaka. Kepunahan tak terelakan, pertumpahan darah tak dapat dihindari, dan tidak ada yang tahu kapan kemalangan itu akan berakhir. Hanya ada dua pillihan mati atau bertahan. Mari kita pergi pada masa dimana manusia masih memburu makhluk ghaib..."

Hari semakin larut saat aku sudah sampai pada halaman 74 dan aku memutuskan untuk tidur. Buku itu aku letakan dimeja kecil dan aku berjalan kearah jendela dengan gorden terbuka memutuskan untuk menutup gordennya namun gerakanku terhenti saat sudut mataku melihat seseorang dibawah sana sedang menatapku. Aku menfokuskan kembali mataku dan tidak ada siapapun disana tapi aku sangat yakin ada seseorang disana. Dengan tergesa-gesa aku menutup gorden lalu berlari untuk kemudian mematikan lampu dan tidur.

***

Sarapan dengan semangkuk sereal, satu buah apel, dan teh earl grey, seperti biasa tidak ada yang menemaniku makan membuatku ingin cepat-cepat menghabiskan makananku. Aku sedang meminum tehku ketika kepala pelayanku –Penelope- membawakan surat dengan nampan.

"Surat untuk anda Nona, seorang kurir dari keluarga Cynster mengantarkannya"

Amplop surat itu berwarna putih dan ada sedikit aksen emas pada tulisan namaku, di lak dengan sempurna dan terdapat tanda khas keluarga Cynster yaitu burung merpati.

Biar aku tebak pasti isi suratnya adalah undangan minum teh, akhir-akhir ini banyak sekali undangan pesta berdatangan mungkin karena akhirnya bisnis keluarga tetap berlanjut membuat kami diakui kembali. Bisnis keluargaku adalah peternakan, butik dan sebuah restoran karena aku tidak mau semakin merepotkan kakakku yang sudah sangat sibuk dengan kasus-kasusnya jadi aku memutuskan untuk mengambil alih bisnis.

Aku mengambil surat itu. "Terima kasih, Penelope"

"Sama-sama Nona" ucap Penelope kemudian pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.

Aku membuka lak amplop itu dengan hati-hati lalu mengeluarkan surat didalamnya. "Yang Terhormat Lady of Wise, Ms. Alice Haisley Bloodnovon. Kami keluarga Cynster mengundang anda untuk sekedar minum teh di rumah kami, jika anda berkenan tolong datang sore ini pukul tiga petang. Kami sangat mengharapkan kehadiran anda. Terima kasih"

Ternyata benar undangan minum teh, ini adalah acara yang dilakukan untuk beramah-tamah antar keluarga dan merupakan tradisi di Inggris untuk minum teh pada sore hari. Tetapi aku lebih menyukai minum teh sendirian atau bersama para gadis biasa daripada dengan para bangsawan lainnya, mereka terlalu arogan dan sombong.

Setelah menghabiskan dua cangkir teh aku segera mengambil tas kulit milikku lalu masuk kedalam kereta kudaku. Siang ini aku harus memberikan kunjungan rutin ke butikku yang berada dipusat kota London, jaraknya tidak terlalu jauh dari kota tempat aku tinggal. Di London jauh berbeda dengan tempat yang aku tinggali, disana semua orang bercampur menjadi satu walaupun diskriminasi masih tetap ada. Kehidupan disana sangatlah sibuk, banyak sekali orang berlalu lalang.

Aku membawa buku yang semalam aku baca. Aku sudah sangat penasaran dengan isi cerita buku ini, jadi aku bawa saja walaupun sebenarnya berat. Buku ini berisi tentang sekelompok manusia yang mencari kebenaran dunia dan mereka menemukan bahwa manusia bisa memiliki kekuatan yang melebihi manusia biasa dan bahwa di dunia ini tidak hanya ada manusia namun makhluk lain, mereka menyebutnya "makhluk berdarah dingin" jadi mereka memutuskan untuk mengurangi jumlah populasi mereka demi umat manusia. Itu aku dapatkan dari halaman yang sudah kubaca.

Ketika aku membaca halaman 101 kereta kudaku berhenti dan Charlie mengatakan bahwa kami sudah sampai di butik. Aku merunduk saat turun dari kereta dengan memegang tangan Charlie dan mengangkat sedikit gaunku. Saat melihat jam yang berada disaku gaunku aku tahu bahwa aku datang terlalu awal karena masih jam 10:23, perjalanan tadi hanya memakan waktu setengah jam.

"Charlie, bisa kau tolong pegangi buku ini sementara aku menyelesaikan urusan di dalam?" aku tidak bohong saat mengatakan buku ini sangat berat.

"Tidak masalah Nona" Charlie mengambil buku yang ada ditanganku lagu memeluk buku itu dengan tangan kirinya.

Bel yang berada diatas pintu berdering begitu aku membuka daun pintu. Butik ini terdiri atas dua lantai dengan luas 12x5 meter , tingkat pertama digunakan untuk memajang berbagai gaun dan tingkat kedua adalah tempat menjahit gaun juga tempat tinggal designer.

"Selamat pagi, Nona Bloodnovon" seorang perempuan menyapaku dengan senyumannya.

"Tidak usah terlalu formal Emelia" balasku.

Dia adalah Emelia Laurens seorang wanita dengan tinggi 169 masih lebih mungil dibandingkan denganku, berambut cokelat, dan berbadan kurus. Aku bertemu dengan Emelia di pedesaan Skotlandia saat aku berkunjung kerumah bibiku, dia seorang yang sangat berbakat dalam hal menjahit dan merancang gaun namun sayangnya desa kecil itu tidak terlalu memerlukan seorang designer jadi aku menawarkannya untuk bekerja padaku. Emelia dan aku kemudian pergi ke kota tempat aku tinggal lalu aku memperbolehkannya untuk tinggal di kastilku sementera gedung butik ini dibangun. Selain Emelia ada beberapa orang juga yang berkerja disini.

"Tidak bisa begitu Nona. Nona, kan, atasan saya jadi saya harus bersikap sopan" sorot mata Emelia berubah menjadi jahil. Aku hanya tertawa kecil menanggapinya.

"Omong-omong mengapa Nona datang lebih awal dari waktu biasanya?"

"Aku harus pergi ke acara minum teh. Bagaimana dengan perkembangan penjualan pada bulan ini?"

"Mari kita bicarakan di lantai atas Nona" kemudian aku dan Emelia pergi ke lantai atas untuk membicarakan bisnis.

***

Hampir mendekati waktu makan siang saat aku keluar dari butik. Charlie langsung menghampiriku saat dia melihatku keluar.

"Ini buku anda Nona" Charlie menyodorkan buku tanpa nama itu padaku.

"Terima kasih Charlie"

"Sama-sama Nona" dia membukakan pintu kereta kuda untukku dan saat aku ingin melangkah sebuah suara menghentikanku. Yang entah kenapa membuatku merinding saat mendengarnya. Aku merasa déjà vu dengan kejadian ini.

"Permisi Lady" setelah aku menengokkan kepala aku melihat seorang pria tinggi berambut hitam, kulit putih pucat yang tidak biasa dan sorot mata yang tajam. Dia mengenakan pakaian serba hitam yang terlihat sangat pas ditubuh tingginya.

"Adakah yang bisa saya bantu Tuan?"

"Buku yang anda pegang adalah milik saya. Isi dari buku itu pasti tentang sekolompok manusia yang haus akan kebenaran dunia " aku bukan hanya terkejut karena perkataannya namun juga karena dia tersenyum dengan cara yang sangat menawan.

"Oh benarkah? Maafkan saya. Saya benar-benar tidak tahu, kemarin ada seorang lelaki tua yang memaksa saya agar membawanya"

"Tak apa. Sebenarnya buku itu belum selesai, coba buka bagian tengah buku itu"

Aku menuruti perkataan dengan membuka bagian tengah buku itu dan benar saja halamannya kosong begitu pula dengan halaman-halaman selanjutnya. "Bagaimana bisa belum selesai?"

"Karena bagi saya akhir dari cerita itu sangat tidak layak untuk di baca" bertambah lagi keterkejutanku.

"Anda yang menulis buku ini?"

"Benar sekali" dia berjalan menjadi lebih dekat lalu mengambil buku itu dari tanganku. Pria itu mengambil tangan kananku lalu sedikit menunduk untuk mencium punggung tanganku.

"Perkenalkan saya Peter G Rupert Arthur" aku bersungguh-sungguh saat mengatakan bahwa senyumannya sangat menawan sehingga mampu membuat pipiku bersemu.

"Saya Alice Haisley Bloodnovon dan saya benar-benar terkesan dengan tulisan anda"

"Terima kasih banyak Nona Bloodnovon, suatu kehormatan bisa membuat anda terkesan" dia menatap langsung mataku membuat kami saling bertatapan, aku tahu ada yang aneh dalam dirinya namun aku tidak tahu apa itu.

"Bagaimana anda bisa menulis buku seindah ini?" aku ingin menghabiskan watuku lebih lama dengannya. Sungguh.

Dia mengeluarkan jam dari saku jas. "Apakah anda berkenan makan siang bersama saya sambil membahas buku ini? Kelihatannya anda sangat tertarik pada buku" dan juga dirimu, sambungku dalam hati.

"Saya juga berencana untuk makan siang"

"Kalau begitu mari kita pergi ke restoran yang biasa saya datangi" dia memiringkan kepalanya sambil tersenyum lalu kami jalan bersama meninggalkan Charlie dibelakang sana.

to be continued... 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Vampire Eyes - Prolog

Noctuary - Dreams